Jakarta Night Hunting

November 18, 2008

copyright214

Diantara saratnya kegiatan kota dan meningkatnya pergerakan warga kota selepas pulang kantor di malam hari. Seorang rekan fotografer arsitektur mengajak saya untuk menikmati night hunting ke tengah CBD Jakarta.

Starting point kami dari Grand Indonesia, sembari memanggul camera backpacker masing-masing yang fiuww..beratnya, kami menyusuri setengah koridor Sudirman-Thamrin ke arah Four Season-The Peak. Ada dua kamera yang saya tenteng, Nikon D70 SLR 70-300 dan Pro summer Canon S5is. Berikut sebagian hasil jepretan dengan kamera pro summer, tanpa tripod, aduhai goyangannya, lumayan bikin noise.

Silahkan dinikmati..

resize-of-cubic-arch2 resize-of-grand-hyatt

resize-of-infront-of-hyatt1 resize-of-depan-kempinski1

resize-of-mercy-tower1 resize-of-we-got-you3

Dari atas-bawah: (1) Grand Indo; (2) Hyatt; (3) Night street corridor; (4) me; (5) Mercy Tower; (6) HI statue


Bagian 2: Qou Vadis Kebudayaan Dayak

November 13, 2008

copyright29

Bagian berikut merupakan terusan dari tulisan sebelumnya.

Pencapaian Makna Hidup Manusia Dayak sebagai Sumber Kebudayaan Unggulan

Tahap kesadaran tersebut di atas tidak dapat lepas dari pergumulan makna hidup orang Dayak. Lalu, apakah makna hidup orang Dayak? Jikalau makna hidup orang Dayak jelas, implikasi dan tautannya dalam kebudayaan Dayak akan lebih jelas. Pada aspek inilah akan dapat dilihat bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan Dayak sebagai garam dan terang bagi dunia.

Dooyeeweerd (dalam Lie, 2008) mengungkapkan bahwa makna hidup manusia meliputi lima belas aspek: kuantitatif, spasial, kinematik, fisik badaniah, biotik, sensori/insting, analitikal, formatif, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, etika, dan iman. Sayangnya, pendidikan modern cenderung mengarahkan manusia hanya dalam lingkup analitikal saja. Sedangkan dunia posmodern cenderung mengarahkan ke dalam aspek yang hanya bertautan dengan pengolahan permainan bahasa sebagai dasar logika (Lie 2008). Read the rest of this entry »


Bagian 1: Qou Vadis Kebudayaan Dayak

November 10, 2008

copyright2

Tulisan dengan tema di atas merupakan personal argument with original opinion of Rio Setiawan Migang; telah menjadi koleksi Institut Dayakology.

MENGGAPAI MEANING OF LIFE, KELUAR DARI BEING OF DAYAK

Harapan akan kemajuan tentunya tidak melulu dimengerti dalam konteks ekonomi. Hal ini pun mengena bagi masyarakat Dayak. Bagi masyarakat yang nenek moyangnya nyaris sepenuhnya bergantung pada alam, konsentrasi ketergantungan umumnya bertumpu pada hasil alamnya. Apa yang dihasilkan oleh alam, itulah yang dinikmati suku bangsa yang unik ini.

Ketergantungan tersebut memang memberikan nilai positif bagi kelangsungan daur hidup. Alam dikelola dengan baik, dan manusia yang mengelolanya pun hidup dengan sejahtera karena merasakan keindahan dari rasa cukup yang mengisi kehidupan.

Read the rest of this entry »