Tulisan dengan tema di atas merupakan personal argument with original opinion of Rio Setiawan Migang; telah menjadi koleksi Institut Dayakology.
MENGGAPAI MEANING OF LIFE, KELUAR DARI BEING OF DAYAK
Harapan akan kemajuan tentunya tidak melulu dimengerti dalam konteks ekonomi. Hal ini pun mengena bagi masyarakat Dayak. Bagi masyarakat yang nenek moyangnya nyaris sepenuhnya bergantung pada alam, konsentrasi ketergantungan umumnya bertumpu pada hasil alamnya. Apa yang dihasilkan oleh alam, itulah yang dinikmati suku bangsa yang unik ini.
Ketergantungan tersebut memang memberikan nilai positif bagi kelangsungan daur hidup. Alam dikelola dengan baik, dan manusia yang mengelolanya pun hidup dengan sejahtera karena merasakan keindahan dari rasa cukup yang mengisi kehidupan.
Pada sisi lain, daur yang dinamis itu akan rusak dan luntur ketika alam dirusak secara perlahan, entah karena eksploitasi sebagai ujud keserakahan segelintir manusia, entah oleh buah eksperimen suatu ideologi yang diimpor yang akhirnya menggeser keunikan falsafah lokal.
Kebudayaan Dayak di Tengah Tsunami Globalisasi
Kehidupan berjalan sesuai alurnya dan peradaban milenium menerobos hingga pedalaman. Manusia Dayak pun mengikutinya dengan tertatih-tatih. Gempita kemajuan teknologi mendesak di tengah hura-hura keserakahan dan kepicikan yang mendorong pembangunan yang tidak manusiawi. Akibatnya, masyarakat Dayak pun tersingkir, wadahnya ditindas dengan kuasa yang terlalu besar, melebihi jalinan persaudaraan Dayak itu sendiri.
Dahulu, di pusat negara telah diturunkan satu sistem bernaung yang tertuang dalam lima sila Pancasila. Dua di antaranya, kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua sila itu merupakan proklamasi agung bahwa manusia yang diciptakan Tuhan Yang Mahaesa dengan segala kemuliaannya itu adalah unik sekaligus kompleks karena diciptakan dengan substansi paradoksal yang tidak terpisah, yaitu substansi fisik dan psikis, tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani. Para pendiri bangsa ini mengukuhkan tujuan final untuk kehidupan yang sempurna adil dan makmur dalam pembangunan berbangsa dan bernegara bagi suku bangsa apa pun di wilayah Indonesia.
Namun, sekali lagi realitas berbicara lain. Kehidupan menghimpit suku bangsa Dayak ke ruang gelap tanpa topangan dan pencapaian yang konkrit. Pilihan menjadi semakin sulit bukan karena terlalu banyak pilihan, melainkan akibat terjadinya tarik-menarik dalam kehidupan yang paradoks: apakah budaya Dayak harus digerus gelombang globalisasi, ataukah berperan mengubah dunia dengan kekayaan bernilai warisan nenek moyang? Itulah pilihan yang harus segera direalisasikan, diwujudnyatakan oleh manusia Dayak itu sendiri.
Daya Pikat dan Prasangka Naif Kebudayaan Dayak di Mata Dunia
Sebagai mozaik dan bagian dari peradaban bangsa-bangsa, kebudayaan Dayak menghadirkan daya pikat yang kuat. Daya pikat itulah yang dipandang orang asing sebagai pancaran kehidupan suku bangsa Dayak. Daya pikat misteriusnya bahasa ibu; daya pikat akan tarian mistisnya; daya pikat akan rimba hutan nan eksotis; daya pikat akan arsitektur Lamin tua berskala giga; daya pikat akan kedayakan di negeri Kalimantan yang besar.
Dalam persepsi lain, kebodohan dan keterbelakanganlah yang dilihat orang asing ketika memandang Dayak. ”Mereka masih primitif!”, teriak seseorang di bangku akademis modern. Teriakan itu memang berlalu dalam hiruk-pikuk milyaran manusia di bumi. Namun, teriakan itu memecut para pemuda Dayak untuk mengubah takdirnya. Pemuda Tjilik Riwut membuka hutan belantara menjadi sebuah kota kecil bernama Palangkaraya; penyair J.J. Kusni yang termasyhur mengumandangkan keindahan Dayak di negeri Eropa; pemuda Hausman Baboe yang membentuk Sarikat Dayak pada masa perjuangan dan memimpin koran Soeara Borneo menyuarakan dengan lantang bahwa
“Pokoknja kemadjoean jalah sekolah atau onderwijs. Bangsa yang hendak madjoe, haroeslah madjoe dalam hal onderwijs, oentoek mengetahoei bangsa dajak madjoe atau tiada, baiklah kita perhatikan kemadjoean onderwijs pada bangsa itu.“
Pendidikan memang mencerahkan suku bangsa Dayak, dan melalui pendidikan pula cakrawala harapan itu menampakkan terangnya nun di sana. Melalui pendidikan, bangsa Dayak mengetahui bahwa potensi batu bara begitu besar untuk kelangsungan hidup. Melalui pendidikan, wawasan kebangsaan menghiasi pemikiran setiap tokoh Dayak. Melalui pendidikan pula karya-karya arsitektur dibangun di setiap sudut kota Kalimantan. Dan melalui pendidikan pulalah dikenal pemanfaatan pariwisata berkelanjutan yang berfokus pada ekologi untuk kelanjutan kebudayaan Dayak.
Kebudayaan Dayak sebagai Pemrakarsa dan Pariwisata sebagai Pelaksana
Disinilah letak permasalahan yang akan memengaruhi banyak aspek dan memunculkan pertanyaan yang harus segera dijawab. Adakah kebudayaan Dayak memiliki peranan penting dalam pelestarian alam? Jikalau ada, mengapa realitas di bumi Borneo menyatakan hal yang sebaliknya? Kalangan media dan dunia akademik menyepakati terjadinya penggundulan hutan seluas gabungan dari beberapa lapangan sepak bola. Hal inilah yang kemudian mencatatkan Indonesia sebagai “The fastest Country in Deforestating” dan telah dicatat dalam Guiness Book of Record. Dan Kalimantan dituding sebagai salah satu pelaku utama kerusakan ekosistem hutan gambut.
Sekali lagi opini sesat diatributkan pada manusia dan kebudayaan Dayak. Dimanakah kekuatan kebudayaan Dayak yang identik dengan nilai kearifan penjagaan alamnya yang mampu membendung kerusakan tersebut? Apakah itu berarti adat penghormatan suku bangsa Dayak terhadap alam di dalam kegiatan membuka ladang telah terkubur? Ke manakah keindahan pantun-pantun belantara Borneo yang mampu mendinginkan kecamuk api pembakaran lahan? Mampukah tarian magis para Belian Dayak membangkitkan semangat menghormati para penjaga alam?
Sebagai bagian dari manusia universal, manusia Dayak merupakan puncak ciptaan. Kedudukan unik tersebut tidak melulu dimengerti bahwa manusia menjadi pusat segala sesuatu (antroposentris). Sebagai satu keseluruhan dengan manusia lain di dunia ini, manusia Dayak diarahkan untuk mencapai satu tujuan yang lebih besar, yakni kemaslahatan dan kedamaian bagi dunia. Pada poin inilah penegasan peran aktif manusia Dayak bagi masalah ekosistem menjadi begitu penting untuk dikumandangkan ke berbagai penjuru mata angin.
Kebudayaan Dayak memang tidak dapat dilepaskan dari eksistensi rimba sebagai ibu buminya. Jikalau alam di bumi Kalimantan rusak dan setiap unsur kebudayaan Dayak yang hidup akhirnya melemah, mungkinkah pengembangan wisata ekologi dan wisata budaya yang merupakan buah dari pariwisata berkelanjutan menjadi tidak relevan?
Jawabannya tidak sekadar terletak pada pengembalian alam ke dalam kerimbunannya yang semula sehingga kebudayaan Dayak normal kembali, sekaligus membuat pariwisata berkelanjutan menjadi relevan. Bukan pula pada perubahan total kebudayaan Dayak, mencabut, serta menggantinya dengan format baru. Jawabannya justru ada pada kesadaran diri akan posisi manusia Dayak di antara milyaran umat manusia dan mengenal makna hidup yang ingin dicapainya.
Bersambung

November 10, 2008 at 3:50 pm |
Find…Rio, but untuk Cuo Vadis disini Dayak sebagai subjek or kebudayaan nya? Karena Meaning of Life memiliki arti luas bagi sebuah kebudayaan. dan being menjadi sebuah catatan ekslusive bagi masyarakat atau budaya dayak itu sendiri. Next saya tambahi lagi ya…….thanks
November 11, 2008 at 4:36 am |
Thanks pak Imam..berbicara kebudayaan memang sangat luas sekali ya..waktu menulis hal ini pun akhirnya saya memutuskan satu urutan ordo sebagai langkah identifikasi subjek. Manusia Dayaklah subjeknya dan kebudayaan merupakan ciptaan yang muncul kemudian setelah ciptaan awal yakni manusianya sendiri hadir. Dalam kata lain, pembaharuan manusia Dayaklah yang menjadi sentralitas transformasi menuju yang namanya kemajuan kebudayaan. Di seri kedua tulisan mungkin akan jelas. Matur nuwun masukannya pak..
November 13, 2008 at 11:47 am |
Bro..gw baru baca sepintas aja..masih belum mendalami banget..
tapi kalo menurut gw coba diangkat mengenai disain yang ada disana..
lalu tautkan ama kebudayaan n pariwisata yang bisa di elaborasi ama sistem-sistem nilai yang dikandung nya.
coz pasti eco friendly banget sesuai dengan isu global warming gitu
secara yang gw tau juga bahwa disain disana terkait sekali ama struktur tingkatan masyarakat dan alamnya.sori kalo masih ngambang banget komentar gw..tq
November 17, 2008 at 3:34 am |
Siip bro! tengkyu, ide bagus tuh buat tulisan baru. tq
November 19, 2008 at 2:21 pm |
Maju Terus masyarakat Dayak…Dahani dahanai tuntung tulus…
November 20, 2008 at 10:06 am |
Klo mo melihat bhwa alam di daerah Kalimantan habis di babat, sebenarnya bukan hanya orang dayak yg boleh dipersalahkan tp warga lain yg jg ambil bagian di dalamnya. Kekayaan Kalimantan jg membuat orang di luar sana tertarik untuk ikut ambil bagian mencari lahan untuk keuntungan pribadi. masih ada orang-orang dayak yang peduli akan lahannya, dan masih ada yang memberdayakan lahannya untuk kelangsungan hidupnya. Coba lihat para penyadap karet di daerah Barsel, karet-karetnya masih tetap mereka lestarikan OK!!
Tulisan Brot bgs…do the best for our GOD!!!!SDG