Konfirmasi Kepindahan Weblog

August 8, 2009

Salam Arsitektur & Pariwisata!

Kawan-kawan yang kami hormati,

Setelah melalui pertimbangan dan proses yang cukup panjang, kami dari JAS Studio selaku pihak yang diberi tanggung jawab untuk membantu pengelolaan weblog ini, diberi mandat:

1. Berdasarkan misi dari Pendiri JAS, mengubah nama architecturetourism menjadi Borneo Tourism Watch (BTW), yang penjelasan detilnya dapat di klik disini.

2. Demi kenyamanan membaca Anda, weblog yang baru akan dilengkapi foto-foto dengan standar estetika & diolah dengan basis software Photoshop yang menarik.

Silahkan kunjungi weblog alihan disini atau langsung ke www.BorneoTourismWatch.wordpress.com

Pertanyaan/kritikan/masukan alamatkan ke: arsimedik [at] yahoo.com


Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah?

July 1, 2009

GBR COPYRIGHT JASTulisan ini dimuat sebagai ujud apresiasi terhadap HUT Kota Palangka Raya ke-44 pada tanggal 17 Juni 2009. Telah dimuat di Harian Kalteng Pos (15-16 Juni 2009) dan di portal Kalimantan Tengah www.betang.com, serta situs resmi Pemprov Kalteng www.kalteng.go.id

Perlukah diadakannya suatu badan khusus yang menangani pariwisata di bumi Kalimantan? Marilah kita telaah bersama.


Di ranah nasional, Kalteng dikenal sebagai propinsi yang mempelopori Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan (FKRP2RK). Sektor unggulan dalam upaya percepatan pembangunan tersebut adalah infrastruktur. Sebagai pelopor utama forum tersebut tentu saja cerita memilukan bahwa kontribusi PRB Kalteng paling rendah dibanding ketiga propinsi lainnya, bukanlah halangan.


Di sisi lain, tidak kalah penting adalah perhatian pada sektor pariwisata. Nilai penting sektor pariwisata disebabkan oleh dua hal, pertama angka kunjungan turis asing di tahun 2010 yang akan mencapai 1,046 milyar orang (WTO, 2008). Kedua, meluasnya tren model pariwisata minat khusus di abad 21 kini, dimana unsur kelaikan infrastruktur terutama jalan yang bagus, ketersediaan hotel berbintang, hingga pelayanan ala amerika, menjadi tidak begitu penting bagi para turis tersebut.


Read the rest of this entry »


Meretas Masa Depan Pariwisata Kalteng di Bumi Kalimantan*

June 1, 2009

GBR COPYRIGHT REDTulisan ini merupakan materi paparan oleh Rio Setiawan Migang dalam rangka Seminar HUT Ke-52 Kalteng, Senin 25 Mei 2009. Bertempat di Jayang Tingang Center, kompleks Kantor Gubernur propinsi Kalimantan Tengah.

Tahun 2005, pihak otorita Pemprov Kalteng mengeluarkan statement prioritas pembangunan yang bertumpu pada beberapa sektor, salah satunya pariwisata. Di tahun 2009, melalui rilis di http://www.kalteng.go.id, situs resmi pemerintah Kalteng, termaktub bahwa tahun ini dicanangkan sebagai tahun prioritas pembangunan pariwisata provinsi Kalimantan Tengah.

Mengapa sektor pariwisata memiliki nilai begitu penting? Adakah peran pariwisata secara langsung terhadap pertambahan devisa daerah?

Mari kita menengok data yang dirilis oleh Badan Pariwisata Dunia (World Tourism Organization atau WTO) dan Konsil Perjalanan dan Pariwisata Dunia (World Travel and Tourism Council atau WTTC).

Read the rest of this entry »


Masa Depan Pariwisata Indonesia

May 1, 2009

gbr-copyright-jasTentu tak pantas apabila keragaman atraksi wisata  Indonesia disejajarkan dengan negara seperti Malaysia, Singapura, maupun Thailand. Indonesia jelas terlampau beragam, terlampau kaya budaya, terlampau indah alamnya. Namun, karena terlampau itulah, Indonesia nampaknya terlena pada adagium sebagai bangsa yang terlalu kaya.

Kondisi Riil Pariwisata Indonesia
Catatan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) yang mencanangkan Visit Indonesia Year 2008 dan mengumumkan keberhasilannya menyumbang US$ 7,5 miliar dari 6,43 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Ada dua aspek yang dinilai, bandingkan pemasukan oleh negara sekecil Malaysia atau Vietnam, maka seharusnya kita kaget bukan kepalang. Read the rest of this entry »


Etika Bisnis Arsitektur Berbasis Ekologi

March 3, 2009

gbr-copyright-jas4

Tentu tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan real estate yang menjual produk perumahan bertemakan green architecture, dihargai cukup mahal dibandingkan jenis hunian yang tidak memberi label green pada produknya. Konsep green seolah menjadi obat terapi yang mahal di tengah kalutnya isu mengenai global warming.

Tidak salah memang, konsekuensi kecerobohan manusia yang mengabaikan alam memang seharusnya ditebus mahal. Kolektivitas perilaku dosa manusia terhadap alam harus ditanggung bersama. Jikalau dampak negatifnya dicerca sebagai ketidakadilan alam, maka tentu tidak salah jikalau Tuhan membiarkan alam makin beringas mengadili manusia. Mencerca alam dan Pencipta seharusnyalah diganti dengan mengobati alam dan mensyukuri bencana yang terlanjur menimpa. Read the rest of this entry »


Jakarta Night Hunting

November 18, 2008

copyright214

Diantara saratnya kegiatan kota dan meningkatnya pergerakan warga kota selepas pulang kantor di malam hari. Seorang rekan fotografer arsitektur mengajak saya untuk menikmati night hunting ke tengah CBD Jakarta.

Starting point kami dari Grand Indonesia, sembari memanggul camera backpacker masing-masing yang fiuww..beratnya, kami menyusuri setengah koridor Sudirman-Thamrin ke arah Four Season-The Peak. Ada dua kamera yang saya tenteng, Nikon D70 SLR 70-300 dan Pro summer Canon S5is. Berikut sebagian hasil jepretan dengan kamera pro summer, tanpa tripod, aduhai goyangannya, lumayan bikin noise.

Silahkan dinikmati..

resize-of-cubic-arch2 resize-of-grand-hyatt

resize-of-infront-of-hyatt1 resize-of-depan-kempinski1

resize-of-mercy-tower1 resize-of-we-got-you3

Dari atas-bawah: (1) Grand Indo; (2) Hyatt; (3) Night street corridor; (4) me; (5) Mercy Tower; (6) HI statue


Bagian 2: Qou Vadis Kebudayaan Dayak

November 13, 2008

copyright29

Bagian berikut merupakan terusan dari tulisan sebelumnya.

Pencapaian Makna Hidup Manusia Dayak sebagai Sumber Kebudayaan Unggulan

Tahap kesadaran tersebut di atas tidak dapat lepas dari pergumulan makna hidup orang Dayak. Lalu, apakah makna hidup orang Dayak? Jikalau makna hidup orang Dayak jelas, implikasi dan tautannya dalam kebudayaan Dayak akan lebih jelas. Pada aspek inilah akan dapat dilihat bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan Dayak sebagai garam dan terang bagi dunia.

Dooyeeweerd (dalam Lie, 2008) mengungkapkan bahwa makna hidup manusia meliputi lima belas aspek: kuantitatif, spasial, kinematik, fisik badaniah, biotik, sensori/insting, analitikal, formatif, bahasa, sosial, ekonomi, estetika, hukum, etika, dan iman. Sayangnya, pendidikan modern cenderung mengarahkan manusia hanya dalam lingkup analitikal saja. Sedangkan dunia posmodern cenderung mengarahkan ke dalam aspek yang hanya bertautan dengan pengolahan permainan bahasa sebagai dasar logika (Lie 2008). Read the rest of this entry »